Satresnarkoba Polres Tanjung Pinang Gagalkan 8,5 Kg Sabu

Kepulauan Riau, beritakarimun.com – Tim Satuan Reserse Narkoba (satresnarkoba) Polresta Tanjung Pinang, kembali mengagalkan peredaran narkotika lintas negara. Satresnarkoba Polres Tanjung Pinang berhasil mengamankan dua pelaku jaringan narkotika.

Kedua pelaku yang diketahui bernama Ardiansyah alias Dian dan Randa Winata diamankan di lokasi yang berbeda. Untuk pelaku Dian diamankan di Pangkal Pinang, Bangka Belitung dengan barang bukti 1,5 Kg. Untuk pelaku Randa polisi mengamankan di kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) dengan barang bukti 7 Kg.

Kasatnarkoba polresta Tanjung Pinang, AKP Chrisman Panjaitan mengatakan kedua pelaku merupakan jaringan internasional yang sudah di monitor sejak 1 bulan. Modus pengiriman narkotika jenis sabu via paket lion parcel travel yang terletak di Km9 Bintan Centre kecamatan Tanjung Pinang Timur.

Kedua pelaku ini terbilang unik,dalam setiap transaksi domestik, pelaku kerap menggunakan jasa pengiriman paket lion parcel saat mendistribusikan narkotika ke daerah pemesanan seperti Batam,Pangkal Pinang dan kota lainnya,”Ujar AKP Chrisman Panjaitan, kepada beritakarimun.com, Kamis (20/2/2020).

Barang bukti narkotika jenis sabu yang berhasil diamankan Satnarkoba Polresta Tanjung Pinang (Agus Siswanto/berita karimun)

Menurut Chrisman, pengungkapan berawal dari adanya laporan informasi peredaran narkotika jenis sabu kepada pihak kepolisian.

Tim satresnarkoba yang di pimpin AKP Chrisman Panjaitan membagi 2 tim buru sergap,penangkapan pertama dipimpin oleh Iptu Raja Vindho dilakukan terhadap pelaku Ardiansyah dengan barang bukti narkotika 1,5 kilogram sabu.

Dari penangkapan Ardiansyah mendapatkan informasi bahwa barang yang satunya dikirim ke pelabuhan ferry di Batam.

“Kita berhasil menangkap Ardiansyah dan langsung melakukan control delivery dipelabuhan batam dan berhasil menangkap pelaku kedua Randa Winata dengan barang bukti narkotika seberat 7 kilo gram sabu,” ungkap Chrisman Panjaitan.

Dari hasil pemeriksaan terhadap kedua pelaku barang haram tersebut diperoleh dari Malaysia berinisial A yang masih DPO.

Sementara pengakuan pelaku Randa Winata sengaja memilih jasa ekspedisi lebih aman dan lancar.

“Saya sudah 2 kali mengirim narkotika lolos dengan menggunakan jasa ekspedisi’kata Randa.

Akibat perbuatan kedua pelaku dijerat undang-undang narkotika pasal 114 ayat 2 junto pasal 112 ayat 2 UU Nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman penjara maksimal hukuman mati.

 

 

Editor : Redaksi