Karantina Pertanian Karimun Buka Diskusi Pengawasan Lalu Lintas Tumbuhan Satwa Liar dan Langka

Karimun, beritakarimun.com – Tingginya minat masyarakat untuk mengoleksi tumbuhan dan satwa langka di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) khususnya Kabupaten Karimun, membuat Karantina Pertanian Karimun menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Sinergi Pengawasan Lalu Lintas Tumbuhan Satwa Liar dan Langka di Hotel Aston Karimun, Kamis (13/02/2020).

Dalam forum diskusi tersebut drh. Anes Doni Kriswito yang merupakan Kepala Bidang Karantina Hewan Hidup, Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Badan Karantina Pertanian bersama Daniwari Widiyanto, yang merupakan Kepala Seksi Peredaran TSL, Sub Direktorat Pemanfaatan Jenis Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati bertindak sebagai narasumber yang dimoderatori langsung oleh drh. Priyadi, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas ll Tanjung Balai Karimun.

FGD tersebut dibuka oleh Hurnaini yang merupakan Asisten 2 Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Karimun.

“Atas nama Pemerintah Daerah kami menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Karantina pertanian Karimun yang telah memprogramkan dalam rangka melestarikan hewan langka, terlebih Indonesia memiliki satwa yang besarnya nomor 2 didunia, ini merupakan suatu kebanggaan yang harus kita jaga dan kita lestarikan,” ungkap Asisten 2 Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Karimun, Hurnaini saat membuka secara resmi FGD tentang Sinergi Pengawasan Lalu Lintas Tumbuhan Satwa Liar dan Langka.

Hurnaini berharap, forum diskusi tersebut bisa menghasilkan langkah positif secara bersama yang bertujuan untuk mengawasi dan melindungi Satwa Liar dan Langka di Kabupaten Karimun.

” Semoga forum diskusi ini nantinya bisa menghasilkan langkah strategis dalam rangka mengawasi tumbuhan dan satwa liar, mengawasi begitu banyak arus lalu lintas di perairan Kabupaten Karimun karena posisi sangat bebas serta berhubungan dengan laut negara lain, pengawasan harus dilakukan secara terpadu dan bersama, karna perlu perlindungan dan pelestarian sehingga tidak punah,” ujarnya.

Berdasarkan data Iqfast Karantina Pertanian Karimun, jumlah pengiriman burung pleci kacamata putih pada tahun 2018 adalah 10.616 ekor, sedangkan pada tahun 2019 jumlahnya menurun di angka 2.961 ekor. Untuk pengiriman tumbuhan jumlahnya lebih sedikit dari pada pengiriman burung. Pada tahun 2018, akar pasak bumi jumlahnya 37 kg dan pada tahun 2019 menjadi nihil atau nol.

Priyadi, Kepala Karantina Pertanian Karimun mengungkapkan alasan pentingnya acara ini harus diselenggarakan. Selain untuk menjawab berbagai pertanyaan dari para komunitas bagaimana persyaratan pengiriman tumbuhan dan satwa liar dan langka, acara ini juga sebagai langkah untuk mengantisipasi adanya tindak penyelundupan.

“Dalam acara ini kita hadirkan narasumber baik dari Karantina maupun BKSDA agar pengguna jasa dalam hal ini komunitas pecinta burung, reptil dan tanaman hias dapat mengetahui secara pasti bagaimana prosedur lalu lintas tumbuhan dan satwa liar dan langka. Selama ini mereka hanya melakukan permohonan ke karantina saja, padahal pemilik juga harus melengkapi dokumen lain diluar karantina seperti surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri (SATS-DN) maupun surat angkut tumbuhan dan satwa luar negeri (SATS-LN),” ungkap Priyadi.

Perlu diketahui bahwa dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan menjelaskan bahwa karantina hewan, ikan dan tumbuhan adalah sistem pencegahan masuk, keluar dan tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, dan organisme pengganggu tumbuhan karantina serta pengawasan dan/atau pengendalian terhadap keamanan pangan dan mutu pangan, keamanan pakan dan mutu pakan, produk rekayasa genetik, sumber daya henetik, agensia hayati, jenis asing invasif, tumbuhan dan satwa liar, serta tumbuhan dan satwa langka yang dimasukkan ke dalam, tersebarnya dari suatu area ke area lain, dan/atau dikeluarkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam tugas fungsi pengawasan lalu lintas khususnya tumbuhan satwa liar dan langka, karantina memerlukan sinergi dari instansi terkait khususnya BKSDA agar peredaran dan pemanfaatannya terkontrol sehingga keberadaan tumbuhan dan satwa ini tidak punah akibat perdangan internasional. Hal ini sesuai dengan Convertion on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora atau Cites.

Sementara itu, Kepala Seksi Peredaran TSL, Sub Direktorat Pemanfaatan Jenis Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Daniwari Widiyanto sebagai narasumber menjelaskan klasifikasi appendiks dalam cites. Ia juga memberikan informasi bagaimana prosedur perijinan pengiriman tumbuhan satwa liar dan langka agar tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Klasifikasi appendiks dalam cites yakni appendiks | (terancam punah), appendiks ll (belum terancam punah namun perdagangannya harus terkontrol) dan appendiks III (jenisjenis yang diproteksi oleh suatu negara dan negara anggota diharapkan membantu untuk mengontrol terhadap ekspornya). Setiap klasifikasi ini memiliki perbedaan jenis tumbuhan dan satwa serta tata cara perijinannya,” ujar Daniwari.

Selain Daniwari, Anes Doni, Kepala Bidang Karantina Hewan Hidup, Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani yang juga sebagai narasumber mengapresiasi langkah Karantina Pertanian Karimun dalam menjembatani permasalahan yang dihadapi oleh para komunitas yang ada di Karimun.

“Kita berharap agar kelestarian flora dan fauna khususnya yang ada di Karimun dapat terjaga dengan baik dan para komunitas dapat mengikuti sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan,” pungkas Anes Doni

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh pemerintah daerah Kabupaten Karimun, TNI-Polri Kabupaten Karimun, Bea dan Cukai Kepri, Imigrasi Karimun, Kejaksaan Negeri Karimun, serta para komunitas pecinta satwa yang ada di Kabupaten Karimun.

 

 

 

Reporter : Nichita Bella
Editor      : Codet Carladiva