Perbesar Potensi Ekspor, PLN Dukung Listrik Pelabuhan di Karimun

Karimun, beritakarimun.com – Kabupaten Karimun menjadi daerah potensial sebagai kawasan ekonomi di perbatasan. Karimun masuk dalam Free Trade Zone (FTZ) atau jalur perdagangan bebas dan merupakan daerah teramai ketiga di Kepulauan Riau (Kepri) setelah Batam dan Tanjung Pinang.

Sebagai daerah transit, pembangunan dan pengembangan infrastruktur di pelabuhan dapat menunjang kawasan perdagangan bebas ini. Hal tersebut dikatakan Direktur Utama PT Karya Karimun Mandiri M Syahrizal selaku pengelola Pelabuhan Roro dan Kargo Parit Rampak.

Untuk memperkuat ekonomi kawasan ini, Syahrizal mencontohkan program Sijori (Singapura-Johor-Riau) yang pernah berlaku di tahun 90-an. Makanya, saat ada program tol laut, ia menyambut baik program ini.

“Senang dengan adanya (program) tol laut, karena karimun ini daerah kepulauan. Saya berharap dari kementerian, BP kawasan, dari Bappenas, memperhatikan ini,” ujar Syahrizal yang dikutip dari detikcom, Rabu (20/11/2019).

Pelabuhan yang dikelola oleh BUMD Pemda Karimun ini memiliki aktivitas yang tinggi dari dua dermaga yang ada. Syahrizal mengatakan, untuk Roro, perbulan bisa mencapai satu juta penumpang dan armada kapasitas truk dan roda empat maupun pribadi mencapai 700 sampai 800 unit.

“Aktivitas cukup tinggi. Untuk kargo, yang jelas (melayani dari dan menuju) Kepri, pesisir Sumatera, dari Jakarta juga. Ada juga yang tidak rutin, kaya penyeberangan luar negeri,” ucap Syahrizal.

Pelabuhan Roro dan Kargo Parit Rampak Kabupaten Karimun  (Codet Carladiva/berita karimun)

Muatan yang masuk dan keluar dari pelabuhan ini masih umum seperti bahan bangunan dan sembako karena, kata Syahrizal, di Karimun masih sedikit industri. Namun, Syahrizal mengatakan pihaknya sedang mengembangkan fasilitas yang ada di pelabuhan ini agar lebih maju.

“Perputaran uang ratusan juta, hampir Rp 1 miliaran kalau per bulan. Kita punya gudang ada 4 unit, 2 tertutup, 2 terbuka. Ada rencana penambahan pergudangan. Pelabuhan ini masih cukup luas untuk adanya terminal petikemas (tps) dan kita punya 6 hektare ini untuk (pembangunan) tps,” ujarnya.

Terkait pengembangan pelabuhan ini, Syahrizal mengatakan akan terus melanjutkan kemitraan dengan PLN sebagai tambahan sumber energi listrik. Ia juga mengatakan, akan memaksimalkan fasilitas listrik ini khususnya untuk aktivitas pelabuhan di malam hari.

“PLN di penanganan operasional pelabuhan. Untuk pengembangan tps, kita bisa bermitra lagi. Dulu pernah pakai genset, tapi lebih repot. PLN sudah menyelesaikan masalah kita. Ada juga pengecekan tiap bulan (terkait masalah kelistrikan ke pelabuhan),” ucap Syahrizal.

Sementara itu, menurut Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tanjungpinang Suharno, pihaknya menyuplai listrik dengan daya 240 kVA untuk Pelabuhan Roro dan Kargo Parit Rampak.

uharno juga mengatakan pihaknya siap mendukung infrastruktur kelistrikan semua pelabuhan dan industri di Karimun, terutama yang masuk wilayah usaha zonasi 3. Saat ini saja, pihaknya menyuplai perkantoran di pelabuhan internasional baru yang kini sedang dibangun di Karimun.

“Harapannya, dari teknis dan pembangkit tidak ada kendala. Untuk meng-cover dengan dukungan UP3 Tanjung Pinang dapat membantu. Hanya dari sisi legal, belum bisa mengalirkan daya dari sisi industri tersebut,” ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan Permen ESDM, zona kelistrikan Karimun terbagi menjadi tiga zonasi di mana PLN masuk zonasi 3 dan sisanya diisi oleh perusahaan swasta yang kini belum beroperasi sama sekali.

Adapun menurut Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah, Karimun menjadi salah satu kawasan di Kepulauan Riau yang menjadi destinasi wisatawan negara tetangga, Malaysia dan Singapura berlibur di akhir pekan.

Ia juga menjelaskan, yang disebut wilayah usaha adalah batasan pemilik wilayah usaha itu bisa menyediakan pasokan listrik yang dikonsumsi atau dibutuhkan pada masyarakat. PLN masuk dalam wilayah usaha zonasi 3 untuk masyarakat dan 2 zonasi lainnya diisi oleh perusahaan swasta untuk kelistrikan industri di Karimun.

Meskipun dengan surplus daya dan infrastruktur yang mumpuni, kata Dwi, PLN mampu menerangi penjuru Karimun, termasuk industri di sana. Namun, PLN masih ‘terperangkap aturan yang berlaku.

“Geliat pertumbuhan ekonomi di Karimun luar biasa, apalagi di situ merupakan daerah FTZ. Di hari libur atau akhir pekan, hotel penuh, banyak wisatawan negara tetangga berlibur di sini. Melihat seperti itu, PLN siapkan, tidak hanya untuk menyongsong tumbuhnya ekonomi bisnis di Karimun, tapi juga bahkan untuk industri,” jelas Dwi.

Dwi juga mengatakan pertumbuhan pelanggan PLN di Karimun selama lima tahun terakhir bisa mencapai 10 hingga 11 ribu. Lalu permintaan peningkatan rata-rata daya sebesar 2 MW dan pertumbuhan pelanggan hingga 7,2%.

“Di dalam RUPTL, pada tahun 2021 ada rencana penambahan 10 MW dari PLTMG yang nantinya PLN menugaskan anak perusahaan, PLN Batam, yang sampai saat ini masih proses visibilitas, mencari di mana lokasi yang tepat dibangun,” ujar Dwi.

Pembangunan perumahan, perhotelan, dan industri perdagangan terpusat di zonasi 3 yang kepastian pasokan listriknya sudah dijamin PLN. sementara di zonasi yang dikelola perusahaan swasta terlihat tidak ada pembangunan.

 

 

Editor: Redaksi