Tolak Kekerasan Terhadap Jurnalis, Puluhan Wartawan Karimun Unjuk Rasa di Depan Kantor Polisi

Karimun, beritakarimun.com – Puluhan Wartawan di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau menggelar aksi unjuk rasa menolak kekerasan terhadap jurnalis. Aksi ini digelar akibat adanya kekerasan oknum polisi terhadap wartawan Makasar, Sulawesi Selatan, 24 September 2019.

Puluhan wartawan yang tergabung dalam Gerakan Aksi Solidaritas tersebut, menyuarakan kekecewaan terhadap oknum polisi yang mencederai wartawan.

Hal tersebut diungkapkan salah satu peserta aksi, Ilham, bahwa pihaknya sangat menyayangkan aksi anarkis yang dibuat oleh pihak kepolisian terhadap para jurnalis yang sedang bertugas meliput demo mahasiswa di Sulsel.

Tolak Kekerasan Terhadap Jurnalis, Puluhan Wartawan Karimun Unjuk Rasa di Depan Kantor Polisi_3
Puluhan Jurnalis di Karimun tolak Kekerasan terhadap insan pers (Codet Carladiva/berita karimun)

“Unjuk rasa mahasiswa yang terjadi diketahui bertujuan untuk menuntut pemerintah dan DPR mencabut pasal-pasal bermasalah di RKUHP dan menolak pelemahan KPK, serta membatalkan RUU bermasalah lainnya seperti RUU Pertanahan dan RUU Ketenagakerjaan. Tentunya kita sangat menyayangkan, kenapa pihak kepolisian tega menghajar teman seprofesi kita, ” Ungkap Ilham dalam orasinya.

Menurut Ketua Jurnalis Karimun (JK), seorang jurnalis atau wartawan dilindungi oleh undang undang sehingga tidak ada siapa pun yang bisa mengintervensi suatu kebebasan pers.

“Pers itu merupakan salah satu pilar demokrasi yang harus terbebas dari berbagai pengekangan, Semua pelaku kekerasan terhadap jurnalis harus diproses hukum untuk diadili hingga ke pengadilan, untuk pihak kepolisian yang ada di Kabupaten Karimun kita juga mengingatkan bahwa jangan sampai kejadian yang sama terjadi kepada jurnalis yang ada di Kabupaten Karimun, ” ujarnya.

Dalam aksi demonstrasi yang dilakukan oleh seluruh wartawan yang ada di Kabupaten Karimun, Para Jurnalis juga menyodorkan petisi yang berisi tentang penolakan kekerasan terhadap Wartawan atau Jurnalis yang ada di Kabupaten Karimun.

Selain disepakati dan ditandatangani oleh para Jurnalis di Karimun, petisi ini juga turut ditandatangani oleh Kabag Sumda Polres Karimun Kompol Suhaili yang mewakili Kapolres Karimun AKBP Hengky Pramudya yang saat itu sedang mengikuti upacara serah terima jabatan di Mapolda Kepri di Batam.

“Terkait peristiwa yang terjadi diluar sana, saya yakin bahwa pihak kepolisian tidak ada niat dengan sengaja untuk melawan dan menganiaya, terutama rekan pers, situasi lagi kacau mungkin sehingga ada yang emosi tanpa tau kalau itu rekan dari pers. Maling saja yang jelas bersalah tetap kita lindungi, apa lagi rekan pers yang sedang mencari berita,” Ungkap Kompol Suhaili.

Menurut informasi yang diterima dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), tiga jurnalis di Makassar menjadi korban kekerasan oknum aparat saat melakukan peliputan. Mereka adalah Muhammad Darwin Fathir (jurnalis Antara), Saiful (jurnalis inilahkata.com) dan Ishak Pasabuan (jurnalis Makassar Today). Kericuhan terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan serta di depan Gedung DPR Jakarta.

Dalam aksi unjuk rasa di Jakarta, empat orang jurnalis luka-luka karena menjadi korban kekerasan. Pertama, kekerasan terhadap jurnalis Kompas.com, Nibras Nada Nailufar. Ia mengalami intimidasi saat merekam perilaku polisi yang melakukan kekerasan terhadap seorang warga di kawasan Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Selasa malam.

Tolak Kekerasan Terhadap Jurnalis, Puluhan Wartawan Karimun Unjuk Rasa di Depan Kantor Polisi_2
Puluhan Jurnalis di Karimun tolak Kekerasan terhadap insan pers (Codet Carladiva/berita karimun)

Dalam peristiwa ini, polisi melarang korban merekam gambar dan memaksanya menghapus rekaman video kekerasan. Nibras bahkan nyaris dipukul oleh seorang polisi.

Kedua, kekerasan terhadap jurnalis IDN Times, Vanny El Rahman. Dia dipukul dan diminta menghapus foto dan video rekamannya mengenai kekerasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran di sekitar flyover Slipi, Jakarta.

Ketiga, kekerasan terhadap jurnalis Katadata, Tri Kurnia Yunianto oleh polisi. Tri dikeroyok, dipukul dan ditendang oleh aparat dari kesatuan Brimob Polri. Meski Kurnia telah menunjukkan ID Pers yang menggantung di leher dan menjelaskan sedang melakukan liputan, pelaku kekerasan tidak menghiraukan dan tetap melakukan penganiayaan.

Tak hanya itu, polisi tersebut juga merampas HP Kurnia dan menghapus video yang terakhir kali direkamnya. Video itu rekaman Polisi membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata.

Keempat, kekerasan terhadap jurnalis Metro TV, Febrian Ahmad oleh massa yang tidak diketahui. Mobil yang digunakan Febrian saat meliput wilayah Senayan dipukuli dan dirusak massa. Akibatnya, kaca mobil Metro TV bagian depan dan belakang, serta kaca jendela pecah semua.

 

 

 

 

Reporter : Nichita Bella
Editor      : Codet Carladiva