Kemenkes Sebut Tender Obat HIV Dimulai Bulan Febuari 2019

Jakarta, beritakarimun.com – Kementerian Kesehatan mengatakan tender obat-obatan antiretroviral (ARV) bagi pasien HIV akan dimulai kembali pada bulan depan. Cadangan obat pun disebut tak akan terdampak.

Sebelumnya, tender itu gagal akibat ketiadaan kata sepakat antara pemerintah dengan industri obat.

“Tender akan dimulai bulan depan, jadi itu tidak akan berdampak pada setok kami,” ungkap Engko Sosialine Magdalene, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Minggu (13/1).

Sementara, bagi pasien yang tidak mendapat obat tersebut bisa mengonsumsi pil dengan bahan yang sama. Stok pil ini masih cukup hingga Desember.

Hal ini diungkap setelah beberapa rumah sakit mengaku kehabisan obat-obatan tersebut. Aditya Wardhana, dari Koalisi AIDS Indonesia menyebut setidaknya 29 rumah sakit dan pusat kesehatan telah kehabisa stok ARV tertentu. Salah satunya adalah dosis tetap dari kombinasi Tenofovir, Lamivudin and Efavirens (TLE).

Kementerian Kesehatan mengakui kalau tahun lalu mereka gagal melakukan tender untuk pengadaan obat-obatan ARV. Namun, mereka telah mengimpor sejumlah obat TLE melalui The Global Fund dan organisasi pembiayaan lain untuk memerangi AIDS, Tuberculosis, dan Malaria.

Jika tender bulan depan gagal dipenuhi pada April, maka Kementerian Kesehatan telah mendapat tambahan 560.000 botol pil TLE terpisah dari dana tersebut.

Namun, Koalisi AIDS Indonesia mendesak agar lebih banyak pembelian darurat atas obat-obat ini lewat pendanaan itu. Mereka juga mendorong Presiden Joko Widodo untuk turun tangan.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, tahun lalu terdapat lebih dari 300 ribu pasien di Indonesia bergantung pada obat-obatan ARV.

Dikutip dari Antara, kata Aditya Wardhana, mayoritas Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia menggunakan obat ARV TLE sebagai terapi pengobatan. Jumlahnya diperkirakan sekitar 631.635 orang pada 2018.

Meski tidak menyembuhkan, obat ARV TLE ini mampu menekan jumlah virus HIV di dalam tubuh pengidapnya.

“Sehingga ODHA bisa tetap sehat dan berpeluang hidup lebih lama,” ujarnya.

Jika ODHA tidak mengkonsumsi obat ini setiap hari secara rutin, maka akan menimbulkan resistensi virus terhadap obat tersebut.

Kalau tidak diminum setiap hari, risikonya terjadi resistensi terhadap obat,” ujar Aditya.

Diketahui, kelangkaan obat AIDS ini terjadi karena dana APBN tak bisa disalurkan untuk membeli obat. Proses penunjukan langsung dengan dua kali negosiasi harga gagal karena PT Kimia Farma tidak setuju dengan harga yang ditawarkan Kementerian Kesehatan.

Kemudian dilakukan proses lelang terbatas dengan peserta lelang PT Kimia Farma dan PT Indofarma Global Medika. Namun, proses ini juga tidak menghasilkan pemenang sehingga menyebabkan terjadinya kekosongan persediaan obat ARV TLE di berbagai tempat.

 

 

Reporter: Hidayat Tanjung
Editor     : Codet Carladiva