Dinkes Karimun Kirim Sample Makanan Racun Santri Ke BTKL Batam

Karimun, beritakarimun.com – Keracunan masal yang terjadi di Karimun Kepulauan Riau (Kepri) terhadap masyarakat khususnya para santri pesantren Hidayatullah Sememal dan santri pesantren Bustanul Adzkiya Muhammadiyah Wonosari yang terjadi pada Sabtu (22/7), memasuki babak baru yakni tahap penyelidikan apa penyebab pastinya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun Kepulauan Riau, Rahmadi, Senin (24/7) mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan sample makanan nasi kotak yang diberikan oleh seorang donatur yang tinggal di Baran 1 yang diduga menjadi penyebab para santriwan dan santriwati serta Ustad dari dua pondok pesantren tersebut hingga keracunan.

“Menurut saya penyebabnya memang dari nasi kotak yang disumbangkan oleh donatur untuk anak-anak pondok pesantren, karena yang mengalami keracunan itu memang orang-orang yang memakan nasi kotak tersebut, hingga para pasien mengalami mual, pusing, dan diare, namun bakteri apa yang terdapat pada makanan tersebut juga kita belum bisa pastikan, yang pasti kita sudah kirim sample yang berisi nasi putih, ayam, telur dan mie ke Badan Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) yang berada di Batam.” ungkap Rahmadi.

Baca Juga: Ratusan Santri di Karimun Keracunan Makanan

Rahmadi juga mengatakan untuk mengetahui hasil penyelidikan terhadap sample makanan yang diduga terdapat bakteri, pihaknya harus menunggu sekitar 2 minggu.

“Untuk mengetahui hasil dari uji laboratorium terhadap sample yang kita kirim, tentu tidak bisa dengan waktu yang cepat, karena menurut saya penyebabnya mengarah ke bakteri yang belum di ketahui jenisnya, jika pengecekkan terhadap bakteri harus dibiakkan dulu bakterinya, karena kalau pengecekan terhadap bahan kimia bisa cepat, kemungkinan untuk pengecekan kita akan tunggu hasilnya sekitar 2 minggu.” ujar Rahmadi.

Rahmadi mengatakan, pasien pondok pesantren yang terkena musibah karena keracunan hingga saat ini masih ada sekitar 11 orang.

“Karena faktor kondisi daya tahan tubuh yang berbeda-beda, maka dari ratusan pasien yang belum diperbolehkan untuk pulang di Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) ada 10 orang, sedangkan korban keracunan yang tersisa di RSUD Muhammad Sani hanya tersisa 1 orang. Untung kejadian tersebut bisa kita tangani dengan cepat, karena kalau anak yang terkena dehidrasi berat, bisa menyebabkan hal yang fatal hingga kematian. Alhamdulillah semua masih bisa diselamatkan.” tutup Rahmadi.

 

 

 

 

 

Reporter : Nichita Bella
Editor      : Codet Carladiva