Warga Desa Pangke Karimun Ujuk Rasa di Depan PT Saipem

Karimun, beritakarimun.com – Akibat banyak pemuda tempatan yang di PHK oleh PT. Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB), membuat ratusan pemuda Pangke Kecamatan Meral Barat menjadi marah sehingga melakukan unjuk rasa di depan PT Saipem Indonesia Karimun Branch, Kamis (13/7) sejak pukul 05.30 dinihari.

Koordinator lapangan yang juga sebagai Ketua Pemuda Desa Pangke Kecamatan Meral Barat, Izwan mengatakan, tujuan ia bersama teman-temannya melakukan unjuk rasa pagi itu ialah, agar pihak management PT Saipem memberikan solusi terhadap teman-temannya yang merupakan anak tempatan terdekat dari lokasi PT Saipem yang dikenal mendunia itu.

“Kami ingin meminta keadilan, kami hanya ingin kesepakatan yang sejak awal dijanjikan oleh pihak Saipem sebelum membangun perusahaannya di wilayah kami itu benar-benar diperhatikan. Kami tersinggung sekali jika pihak Saipem lebih memprioritaskan tenaga kerja luar dibanding kami anak tempatan yang sangat membutuhkan pekerjaan. Percuma di daerah kami ada perusahaan besar, tapi kami tak diprioritaskan untuk dapat bekerja diperusahaan terdekat dari wilayah tempat tinggal kami.” ujar Izwan.

Izwan mengtakan, kurang apa masyarakat pangke barat yang tidak pernah ribut dengan dampak-dampak yang diakibatkan oleh hadirnya perusahaan di wilayah desanya.

“Kami tidak minta banyak, kami hanya ingin warga di wilayah kami mendapatkan kesempatan menetap bekerja di PT. Saipem, jangan dimasukkan ke subcont, karena di Saipem lah harapan kami, karena menurut kami di Saipem jelas jaminan kerjanya dibanding di Subcont. Kurang apa kami yang tak pernah ribut-ribut jika ada dampak yang terjadi yang ditimbulkan oleh PT. Saipem, kami berharap pihak Saipem dapat mempertimbangkan hal tersebut.” ungkap Izwan.

Sementara, Arti Wahyuni yang juga merupakan warga Pangke yang masih bekerja di PT. Saipem, sengaja ikut melakukan aksi unjuk rasa hingga mogok kerja demi teman-temannya yang telah di PHK.

“Tak mungkin saya tenang kerja ketika teman-teman saya sedang memperjuangkan nasibnya, saya membela untuk pangke, saya tinggal di pangke dari kecil di pangke dulu pemakaman nenek moyang kita di dalam wilayah perusahaan sebelum dibangun, tanah kita pindahkan, kalau ada pengurangan memang benar, tetapi kenapa helper masih ada didalam, diprojek baru pulak, kamikan di projek baru sekarang, tapi di projek baru itu masih terdapat helper, fitter dan welder masih ada, sedangkan helper dan welder yang merupakan orang pangke kenapa semua di rumahkan, kami minta alasannya, mana yang permanen pada dihabiskan, perjanjian utama tetap mengutamakan wilayah setempat.” ujar Arti.

Diwaktu yang sama, Polres karimun bersama Polsek Meral selaku pemilik wilayah hukum Meral Barat menurunkan sebanyak 62 personil guna memberikan pengamanan untuk mengantisipasi adanya indikasi prilaku anarkis yang terjadi dalam unjuk rasa tersebut.

“Untuk penanganannya kita sudah dilibatkan beberapa kali dalam mediasi, hasilnya kemaren mempekerjakan mereka di subcont, kita anggap kita pihak pengamanan, kendala memang sampai saat ini kita rasa tidak ada, untuk segelintir mungkin jika ada isu-isu yang berkembang kita tetap antisipasi.” tutup Kapolsek Meral, AKP Syaiful Badawi.

 

 

 

Reporter : Nichita Bella
Editor      : Codet Carladiva