Proyek Jangkrik di Karimun Segera Produksi Gas 450 MMSCFD

Karimun, beritakarimun.com – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatatkan, kapal pengolahan gas atau Floating Production Unit (FPU) Jangkrik akan memproduksi gas sebesar 450 MMSCFD.

Hal tersebut diungkapkan Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi usai acara pengukuhan nama Kapal FPU Jangkrik di galangan anjungan migas terbesar se-Asia Pasifik, yang berada di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

“Jadi kapasitas produksnya 450 MMSCFD, selama waktu 6 tahun, setelah itu akan menurun,” kata Amin.

Amin juga mengatakan, produksi gas yang menggunakan fasilitas terapung ini bisa meningkat jika nantinya beberapa lapangan kerja yang di sekitar kapal pengolahan gas ini mengintegrasikan dari KKKS lainnya.

“FPU ini akan dipakai di lapangan Jangkrik di wilayah kerja Muara Bakau, terus setelah ini jalan, ENI akan mulai ngebor ada 35 km di Merakes, kalau ngebor dan gasnya keluar, ini akan diproses di FPU sini, artinya tidak membuat FPU baru, kemudian proses di situ, kemudian di kisaran situ juga ada IDD Galuh, semula akan bangun FPU sendiri, karena masih belum jalan sekarang sedang dihitung seandainya itu jalan untuk pipe in biayanya berapa, buat sendiri berapa, buat kami lebih murah maka akan masuk ke FPU Jangkrik, jadi bisa dipakai oleh wilayah kerja lain yang menghasilkan gas,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan, produksi gas yang diolah pada fasilitas terapung ini bisa meningkat hingga 800 MMSCFD. Pasalnya, ada beberapa lapangan kerja yang bisa memanfaatkan kapal pengolahan gas terbesar itu.

“Output-nya gas fuel Jangkrik, di Makassar 450 MMSCFD, sama dengan 6-7 % dari produksi gas di Indonesia, diharapkan ditingkatkan 800 MMSCFD, kalau proyek IDD Chevron bisa memanfaatkan FPU ini jadi tidak usah membangun lagi,” Ujar Jonan.

Diketahui, Kapal Pengolahan Gas Jangkrik dirancang untuk pengolahan gas dengan kapasitas hingga 450 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Sebanyak 10 sumur produksi gas bawah laut yang telah dikompresi dan siap untuk diproduksikan, akan dihubungkan dengan FPU yang kemudian akan mengolah dan menyalurkan gas menggunakan pipa bawah laut sepanjang 79 km dan selanjutnya ke darat yaitu ke dalam jaringan produsen gas Kalimantan Timur dan pada akhirnya kepada pemakai dalam negeri di Kalimantan Timur dan kilang LNG Bontang.

Kapal pengolahan gas Jangkrik juga berfungsi sebagai penyulingan dan menstabilkan kondensat serta menyalurkannya ke darat melalui jaringan distribusi setempat dan berakhir di kilang kondensat Senipah.

Lebih dari 50% produksi Lapangan Jangkrik akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik, sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan energi nasional dan pembangunan ekonomi.

Blok Muara Bakau dioperatori oleh ENI Muara Bakau B.V sejak 2002 dengan kepemilikan saham sebanyak 55% dan mitranya Engie E&P sebesar 33,3% serta PT Saka Energi Muara Bakau sebesar 11,7%.

Penemuan gas pertama didapatkan pada tahun 2009 pada garis sumur Jangkrik-1. Di blok yang sama, pada sekitar 20 km di sebelah Timur Laut Lapangan Jangkrik, ditemukan lapangan Jangkrik North East pada tahun 2011.

Rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) lapangan Jangkrik disetujui tahun 2011, sedangkan Jangkrik North East tahun 2013. Persetujuan PoD Jangkrik North East mencantumkan integrasi dengan pengembangan lapangan Jangkrik dalam satu proyek tunggal yang dinamakan “Proyek Komplek Jangkrik”.

 

Reporter : Violla Putri
Editor     : Codet Carladiva