Batam, Bintan, dan Karimun Target Investor Singapura

Singapura, beritakarimun.com – Indonesia memang ibarat gadis cantik untuk kalangan investor di dunia. Tak terkecuali investor dari Singapura, yang sekarang sangat berminat untuk masuk ke Surabaya, Batam, Bintan, dan Karimun.

Pada kuartal III-2016 realisasi investasi ke Indonesia mencapai Rp 155,3 triliun, atau lebih tinggi dibandingkan dengan dua kuartal sebelumnya. Tercatat ada pertumbuhan investasi 10,7%. Secara akumulasi sembilan bulan terakhir, pertumbuhan investasi mencapai 13,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy), yang sebesar Rp 400 triliun.

Dalam rinciannya, investasi penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 99,7 triliun dan penanaman modal asing dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 55,6 triliun. Asal investor terbesar berasal dari Singapura dengan nominal US$ 2,2 miliar. Dilanjutkan dengan Jepang, China, British Virgin Island, dan Belanda.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura mengambil peranan cukup besar untuk menarik investor menanamkan modalnya di tanah air. Berbagai program telah dilaksanakan dan dapat dikatakan berhasil.

Apa saja programnya, mari simak wawancara khusus beritakarimun.com bersama Duta Besar RI untuk Singapura, Ngurah Swajaya, melalui via whatsappnya, sabtu sore (5/12).

Program seperti apa yang dilakukan KBRI untuk menarik investor ke Indonesia?
Kita kan promosi investasi dilakukan banyak sekali. Selama setahun, kita bikin sekali dalam dua bulan lewat berbagai macam program dan destinasi.

Di sini ada terdaftar German Companies, American Chambers, kita juga undang Internasional Chairman of Commerce. Memang dari berbagai negara, karena di sini hub-nya. Jadi kita sampaikan potensinya, tren, yang sudah terjadi dan ini yang akan kita lakukan. Kita harapkan bisa mendapatkan respons positif dari investor Singapura.

Jadi yang tadinya mereka mengetahui, mempelajari kemudian mereka ingin datang sekaligus investasi. Ada juga yang sudah investasi, namun ingin memperluas. Kalau kita tidak memberikan promosi seperti itu, mereka juga nggak tahu perubahan apa yang terjadi di Indonesia.

Apa daerah yang diminati investor?
Surabaya. Jadi sekali ada Singapore Manufacturing Federation datang bawa 30 orang investor, kita atur pertemuan dengan partner kerja sama potensial di Surabaya dan Jakarta. Kemudian ada one on one meeting.

Kedua dari Koordinator Penanaman Modal Singapura. Ada 30 perusahaan juga ke Surabaya dan Jakarta. Terakhir ada datang khusus ke Surabaya. Jadi memang Surabaya sekarang cukup diminati. Terutama untuk Small Medium Enterprise (UKM), kenapa? Karena di sini biaya produksi semakin mahal lahan terbatas. Jadi ketika mereka ingin ekspansi maka keluar dari Singapura.

Surabaya adalah salah satunya. Apa yang diminati misalnya food product. Ada berbagai macam. Kemudian ada juga di Kendal, dengan industri padat karya. Itu sudah jalan.

Bagaimana dengan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK)?
Kita memang antara Indonesia dan Singapura punya kelompok kerja mengembangkan BBK. Kenapa BBK? Karena secara geografis dekat dengan Indonesia, yang kedua memang dengan perkembangan perekonomian sekarang, bagi Singapura mereka kan ingin ekspansi, karena mereka kekurangan lahan dan sebagainya. Salah satunya paling menarik bagi mereka adalah BBK.

Selain itu memang yang kedua kita berbicara mengenai lahan yang tersedia, ketiga kita berbicara mengenai sumber daya manusia yang tersedia. Dan keempat yang penting juga adalah pengembangan industri di BBK tidak hanya untuk pasar ASEAN, tapi juga pasar Indonesia.

Pasar Indonesia kan besar, jadi atas dasar itu waktu pertemuan Presiden (Indonesia) dan Perdana Menteri (Singapura) ada komitmen untuk mengembangkan investasi Singapura di BBK.

Sektor apa saja yang diminati investor?
Khusus untuk Batam, mereka berbicara mengenai infrastruktur dan itu yang dilakukan pemerintah dan investasi di bidang digital ekonomi. Digital ekonomi itu kita berbicara mengenai data center, start up. itu sudah mulai masuk dari Singapura. Selain itu ada juga pariwisata dan properti. Kalau properti sudah masuk, pariwisata sudah masuk.

Di Bintan itu yang potensial, kan memang sudah ada Lagoy, kawasan industri pariwisata dan ada juga untuk manufaktur. Di samping industri dan pariwisata, agro bisnis juga menarik untuk dikembangkan di BBK.

Makanya kita mengundang otoritas BBK untuk langsung menyampaikan prioritas mereka dan menjadi pengembangan dalam waktu dekat. Nah itu ditawarkan.

Secara makro investor melihat, pertumbuhan investasi 50% kenaikannya dari Singapura ke Indonesia. Untuk sembilan bulan pertama, itu sudah 44% dibandingkan periode yang sama 2015. Di samping itu juga ada peningkatan signifikan dari China.

Fasilitas seperti apa yang ditawarkan kepada investor?
Pertama, pajak kan sekarang sudah mulai direformasi. Kedua, kita bicara mengenai lisensi, kan kita sudah mengeluarkan izin tiga jam plus konstruksi dan sudah dilakukan di Batam. Kemudian Batam kan memang dalam pembenahan pasca duplikasi antara kewenangan Pemda dan BP Batam. Ini kan baru enam bulan bekerja, tapi meskipun demikian, investor tetap juga datang.

Ini kalau bisa memberikan kepastian hukum segala macam itu mungkin pertumbuhannya sangat pesat.

Bagaimana dengan perdagangan RI-Singapura?
Singapura merupakan salah satu pasar terbesar bagi kita. Memang tidak hanya pasar akhir tapi transhipment untuk ke pasar ASEAN, China, dan Jepang. Kenapa harus lewat Singapura, karena Singapura memiliki FTA dengan pasar utama dunia.

Kita sudah mulai jajaki kemarin pisang dari Lampung. Ini awal tahun ekspor ke Singapura. Di sini permintaannya tinggi dan harganya bagus.

Langkah apa yang dilakukan KBRI untuk mendorong ekspor produk Indonesia?
Kita siapkan ruangan khusus display produk Indonesia. Nanti display itu ada produk andalan kita. Sifatnya tidak statis. Tidak hanya produk kreatif, tapi hasil industri seperti kabel atau perkapalan.

Kita sediakan ruang tamu, kita lengkapi dengan katalog beserta produk dan bisa langsung order. Jadi bukan hanya memberikan brosur, tapi bisa langsung pesan ke orangnya. Kita akan resmikan 23 Desember 2016.(c)