Panasonic dan Toshiba Diminta Kirim karyawan ke Pabrik Lain

sebarkan:

Kepri, beritakarimun.com – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan mengirimkan surat kepada Panasonic dan Toshiba, untuk ‘mengirim’ karyawan mereka yang terkena dampak penutupan pabrik, ke industri lainnya di Indonesia yang sedang membutuhkan pekerja.

“Itu usulan kami. Misalnya pada program investasi padat karya yang disahkan pemerintah Oktober lalu. Itu butuh 120.000 tenaga kerja,” ungkap kepala BKPM Franky Sibarani, Kamis (04/02).

Franky menambahkan, selain ke program investasi padat karya di 15 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pekerja dari Panasonic dan Toshiba “juga bisa disalurkan ke pabrik di Gresik yang membutuhkan 50.000 orang dan di Indonesia timur yang memerlukan 10.000 pekerja

Presiden Komisaris Grup Panasonic Gobel, Rachmat Gobel, sebelumnya mengungkapkan pihaknya merestrukturisasi tiga pabrik lampu di Pasuruan (Jawa Timur), Cikarang dan Cileungsi (Jawa Barat), dengan menutup pabrik di Cikarang.

Baca Juga: Pabrik Panasonic dan Toshiba Tutup, Ribuan Pekerja PHK

Alasannya, produksi lampu hemat energi (CFL) yang diproduksi di salah satu pabrik, terkendala “permintaan pasar dunia yang mulai turun”. Produksi pun akan difokuskan untuk menghasilkan lampu Light Emitting Diode (LED) yang lebih diminati.

Gobel mengklaim pihaknya memberi tiga pilihan kepada karyawan di pabrik Cikarang, yang berjumlah 425 orang. Pilihan tersebut adalah tetap bergabung dan pindah bekerja ke Pasuruan atau Cileungsi, dipindahkan ke perusahaan Panasonic/Gobel yang lain, atau mengundurkan diri.

Komisi VI DPR, yang menangani masalah perdagangan, industri, BUMN dan investasi, menilai pemerintah harus segera berkaca terhadap segala kebijakan yang telah dikeluarkan. Setidaknya, sejak September 2015, pemerintah telah meluncurkan sembilan paket ekonomi yang diklaim akan mempermulus investasi asing.

Namun, tidak hanya perusahaan asal Asia yang mulai melakukan strukturisasi dan penutupan pabrik, para investor dari Eropa juga mulai “kehilangan kepercayaannya untuk berinvestasi di Indonesia”.

Berdasarkan survei yang dilakukan Kamar Dagang Inggris (Britcham) dan Kamar Dagang Eropa (Eurocham), para investor Eropa, pada periode survei November 2015 hingga Januari 2016, “telah kehilangan kepercayaan sebesar 21% untuk berinvestasi di Indonesia”.

“Ini sudah lampu kuning, jelang oranye. Tapi untungnya belum lampu merah,” ungkap Ketua Komisi VI DPR, Achmad Hafisz Tohir, kepada wartawan BBC Indonesia, Rafki Hidayat, di gedung DPR Senayan, Kamis (04/02).

Menurutnya, Indonesia harus segera menyelesaikan masalah “tarif dan biaya logistik yang tinggi”, yang disebut Achmad “hanya bisa bersaing dengan tarif di Kamboja dan Myanmar”.

Achmad mengkhawatirkan, keadaan tersebut akan membuat investor memindahkan investasinya ke negara lain.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, biaya logistik Indonesia mencapai 24% dari produk domestik bruto (PDB), salah satu yang tertinggi di dunia. Sementara biaya logistik di Malaysia ‘hanya’ 15%.

“Orang mau ke kita? Nggak ada yang mau,” tandasnya.

Di saat pabrik Panasonic dan Toshiba ditutup dan kepercayaan investor Eropa menurun, Kepala BKPM Franky Sibarani menegaskan, tetap ada “kabar positif” di dunia investasi Indonesia.

“Di bidang elektronik, izin prinsip investasi pada Januari 2016, naik 106%,” ungkap Franky.

Salah satu investor yang memperluas bisnis eletroniknya di Indonesia bulan ini adalah “investor asal Cina”. Meskipun tidak mau menyebutkan nama perusahaan Cina tersebut, Franky menampik pertanyaan wartawan terkait pemerintah Indonesia yang semakin “pro-Cina” dan mulai melupakan investor dari negara lain.

“Tergantung lihatnya saja. (Investasi dari Cina ini) bisa dilihat sebagai ancaman atau peluang. Saya pilih melihat ini sebagai peluang,” kata pengusaha yang merupakan mantan ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) tersebut.

Franky pun meminta agar masyarakat lebih berfokus pada realisasi-realisasi investasi, yang dinilainya ‘tidak seburuk yang dikira’, dan tidak kepada hasil survei.

“Capaian realisasi investasi kita tahun 2015 itu Rp545 triliun, naik 17,8%. Itu fakta,” tandasnya.(Khalia)

Leave a Reply

Your email address will not be published.