Investasi Kota Batam Lesu

Batam, beritakarimun.com – Sebagai kota dengan pertumbuhan penduduk terpesat di Indonesia, Batam menjadi pusat perhatian investor. Apalagi, lokasinya yang strategis sebagai jalur penghubung bisnis antar negara-negara di Asia Tenggara.

Ketika dibangun sejak awal tahun 1970, Batam hanya dihuni sekitar 6.000 jiwa saja. Namun dalam waktu 40 tahun, peningkatan terjadi hingga 172 kali lipat, atau sekitar 1.035.280 penduduk (per tahun 2015).

Tahun 2007, Peraturan Pemerintah Nomor 46 membuat kota yang terletak di kepulauan Riau itu menjadi kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan (Free Trade Zone). Sehingga kawasan tersebut terbebas dari pengenaan bea masuk, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah, serta cukai hingga 70 tahun kedepan.

Sejak saat itu pula, Batam sukses menjadi kota industri di berbagai faktor, mulai dari ekspor-impor, pabrik, serta pariwisata.

Memiliki 5 pelabuhan internasional yang ditunjang oleh sarana dan prasarana yang baik, membuat Batam menjadi incaran target wisata penduduk asing. Pada tahun 2012 misalnya, tercatat ada sekitar 1,3 juta turis mancanegara yang berkunjung ke Batam, sehingga membuatnya menjadi pintu masuk ketiga untuk orang asing setelah Jakarta dan Bali.

Sementara untuk sektor properti, penjualan sepanjang tahun 2015 mencapai 10 ribu unit yang melingkupi rumah, ruko, dan apartemen. Untuk harga rumah, kenaikannya sekitar 30 persen per tahun, sedangkan apartemen 20 persen per tahun dengan harga tanah saat ini berada di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per m2.

Memilliki 26 kawasan industri sebagai penunjang ekonomi di wilayah seluas 1.595 km2, Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat, pada periode Januari-November 2015, terdapat 134 perusahaan baru yang tertarik untuk bergabung, dengan total nilai mencapai USD 239,5 juta (Rp 3,3 triliun) dan 10 perusahaan yang akan melakukan perluasan sebesar USD 238,6 juta (Rp 3,32 triliun).

Meski begitu, angka tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan tahun 2014. Pada periode tersebut, menurut catatan dari BP Batam, terdapat sekitar 136 buah perusahaan baru yang masuk dengan angka investasi mencapai USD 568,2 juta (sekitar Rp 7,87 triliun) dan perluasan 18 perusahaan yang sudah beroperasi USD 417,3 juta (sekitar Rp 5,78 triliun).

Data tersebut juga menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, investasi di Batam kerap anjlok. Lantas, bagaimana nasib investasi di Batam pada periode tahun 2016 ini?(Dava)

Leave a Reply

Your email address will not be published.