Polusi Udara Smelter Karimun Mining Mersahkan Warga

Polusi Udara Smelter Karimun Mining Mersahkan WargaKARIMUN, BERITAKARIMUN.COM – Sejumlah warga di Desa Pangke Barat, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, memprotes peleburan bijih timah pada smelter PT Karimun Mining karena menimbulkan polusi berupa kepulan asap dan debu yang dapat mengancam kesehatan masyarakat.

“Sebanyak 99 warga telah membubuhkan tanda tangan menuntut penghentian aktivitas smelter PT Karimun Mining karena menimbulkan polusi udara berupa kepulan asap dan debu peleburan timah,” Ujar tokoh pemuda Pangke Barat Haris , Rabu (10/9).

Haris menuturkan, pernyataan sikap 99 warga yang tinggal di sekitar smelter itu merupakan puncak kekesalan atas sikap manajemen perusahaan yang mengabaikan tangung jawabnya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Kepulan asap yang keluar dari cerobong asap smelter perusahaan timah swasta itu, menurut dia sudah berlangsung hampir satu tahun. Ia menuturkan, asap yang ditimbulkan dari aktivitas pengolahan bijih timah itu menimbulkan bau menyengat karena mengandung zat kimia seperti arsenik yang dapat menimbulkan gangguan pada paru-paru.

“Bukan asap bau menyengat saja, debu timah juga ikut terbang yang menimbulkan ketidaknyamanan ketika debu tersebut melekat di kulit. Tidak hanya siang hari, pada malam hari ketika perusahaan itu berproduksi,” tuturnya.

Polusi udara yang ditimbulkan dari smelter PT Karimun Mining, menurut dia tidak hanya dirasakan kalangan warga, tetapi turut pula dirasakan para karyawan PT Saipem yang berlokasi tidak jauh dari smelter tersebut.

“PT Saipem beberapa waktu lalu pernah menyampaikan protes, namun kenyataannya polusi udara itu masih saja terjadi. Anehnya, smelter milik PT Eunindo Usaha Mandiri yang berdiri di sebelahnya sama sekali tidak mengepulkan asap. Kami menduga sistem pengolahan di smelter itu bermasalah atau tidak sesuai dengan standar,” tuturnya.

Menurut Haris, protes warga tersebut sudah disampaikan kepada manajemen PT Karimun Mining. Ia mengatakan, PT Karimun Mining dalam pertemuan di Kantor Desa Pangke Barat berjanji akan membenahi sistem pengolahan bijih timah di smelter-nya sehingga tidak lagi menimbulkan polusi udara.

“Pihak manajemen yang diwakili Pak Musril dan Candra dengan disaksikan Kepala Desa Romainur meminta waktu satu bulan untuk membenahinya. Jika tidak juga ditepati, warga mengancam akan melakukan aksi unjuk rasa di lokasi smelter,” kata dia.

Ia juga mendesak Badan Lingkungan Hidup Karimun dan Dinas Pertambangan dan Energi agar meninjau ulang izin analisis dampak lingkungan perusahaan itu.

“Pengawasan BLH kami nilai sangat lemah dan kurang tanggap dengan keluhan warga yang sudah bertahun-tahun mengeluhkan bau menyengat dari polusi udara itu,” ucapnya.

Selain menuntut penghentian polusi udara, menurut dia, warga juga meminta perusahaan tersebut menghentikan pencemaran lingkungan berupa limbah hasil pengolahan timah mengalir ke jalan tanpa ada tempat penampungan limbah.

“Warga juga meminta dana kompensasi atau dana CD dari perusahaan, serta memberikan kesempatan kerja kepada warga lokal untuk bekerja di smelter itu,” kata dia.

Secara terpisah, Kepala Desa Pangke Barat Romainur mengharapkan agar pihak perusahaan menepati janjinya untuk membenahi sistem pengolahan timah sehingga tidak lagi menimbulkan kepulan asap yang mencemari lingkungan.

“Warga sebelumnya sempat mengancam akan menggelar demo, tapi karena perusahaan bersedia menggelar pertemuan dan berjanji memperbaikinya dalam tempo satu bulan, maka rencana demo tersebut batal dilakukan,” kata Kepala Desa Romainur.(AN)

Leave a Reply

Your email address will not be published.